Jumat, 06 Januari 2017

Itchy Thumb Syndrome Chapter 4



Itchy Thumb Syndrome
Chapter 4. Nyet, bangun!

Senin, 12 agustus.

Pagi yang sangat dingin di tengah kampung perkotaan. Kali ini berbeda halnya dengan yang iko dan milo lakukan sebelumnya. Milo secara ajaib bangun pagi dan mengajak kakaknya untuk berjamaah di mushola dekat rumah mereka. Tadi malam milo memang tidur lebih awal, sehingga kali ini si spesimen malas tersebut bisa bangun pagi. Milo mendapatkan sebuah hadiah dari bapaknya berupa handphone baru bermerek china. Meskipun begitu, spesifikasi handphone tersebut sangat mumpuni untuk sekedar bermain game, ataupun berselancar di dunia maya. Selamat ya milo!!

Secara teoritis, tingkat mood dalam diri seseorang yang tengah bahagia akan mempengaruhi kualitas tidur orang tersebut, hal itu terbukti nyata melihat sedari malam milo nampak pulas tertidur dengan handphone barunya di samping. Lagi lagi milo tidur di kamar iko. Heeeeeuuuhhh....

Hawa dingin di pagi buta, diiringi suara petok petok dari beberapa ayam jago milik tetangga iko. Benar benar suasana yang jarang iko temui selama ini. Setelah mandi dan berpakaian rapi, iko dan milo menyusul emak dan bapak yang lebih dulu berada di mushola. Yah,, ini sudah cukup bagi iko. Kebahagian yang iko cari, yang iko idamkan, sebenarnya sudah tertata rapi setiap hari andai saja iko bisa membuka mata dan menerima kondisi keluarga iko saat ini. Terima kasih Tuhan telah membuka mata iko kembali di hari senin ini sehingga iko bisa bersama mereka lagi....

“mas, ngadep sini lah.. guyu-o”. Pinta milo yang sedang berusaha mengajak iko ber-swafoto dengannya menggunakan hape barunya. Terlihat rona ceria adik semata wayang iko kala itu. 

“woh, aku sengaja nggak ngadep ke kamera, ndol.. namanya candid “. Jawab iko.

Sebenarnya iko sedikit malas untuk berfoto ria dengan milo. Mata iko kembali ngantuk kala itu hahahaha... efek bawaan itumah.. eh, ngabarin nenek dulu ah ikonyah! Kan keren ntar, biasanya nenek yang chat duluan, kali ini iko mau jadi yang pertama memberi salam hangat buat pagi si nenek kesayangannya, winda.

“nenek, udah bangun belom? Buruan shalat gih.. keburu terang langitnyah..”. iko cek dulu kali aja ada yang salah kata, yap, udah bener, KLIKKK.. terkirim.

Sambil nunggu winda membalas chat iko, iko menuju ke toko milik bapak yang berada tepat di samping rumah. Bapak iko dulu adalah karyawan di salah satu perusahaan pupuk di gresik. Entah karena alasan apa, yang jelas saat itu iko masih kecil, bapak mengundurkan diri dari pekerjaannya dan lambat laun mulai membuka usaha toko bahan sembako dan peralatan rumah. Iko sadar, ternyata setiap hari bapak sudah terbangun di pagi sekali lalu menyiapkan isi toko dan membuka bilah demi bilah dinding kayu penutupnya. Kemana ajaa iko selama ini, iko terlalu malas.

---------------------------------------------

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Iko dan milo sudah sarapan bersama bapak dan emak, setelah mempersiapkan kembali perlengkapan ke sekolah, iko berangkat bersama bapak dan milo, tentunya. Motor butut kesayangan bapak menerobos perkampungan di tengah kota surabaya mengantarkan kedua jagoannya menuju tempat mereka menimba ilmu. Selalu terselip wejangan wejangan motivasi dari sang bapak kepada iko dan milo agar lebih bersemangat dalam bersekolah. Sekitar 15 menit melajukan motornya, akhirnya tibalah iko di smp yang nggak begitu terkenal, smp kesayangannya. Hahaha...

“pak, iko sekolah dulu, Assalamualaikum”. Pamit iko sambil menjabat tangan bapak dan milo, tak lupa pula senyum manis mirip aliando ia berikan hahahaha... ngehe.

Iko berjalan menuju gerbang sekolah ditemani beberapa kawan iko. Ada wilda si gendut yang selalu rangking 1 dari dulu kelas 7 hingga saat ini. Ada jessica si cantik dengan gigi berbehel yang selalu menggoda iman hahaha. Di sisi jalan, iko melihat seorang bocah kekanak kanakan memakai tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum Tupperware bergambar boboiboy sedang berlari ke arah iko setelah keluar dari mobil yang mengantarnya, hahahaha... tau sendiri lah siapa, sahabat paling ngehe-nya iko, si alvin. 

“eh, anak mami rapi banget...”. kata jessica menggoda alvin yang tengah sibuk menyantap sandwichnya.

“woaaah, iyha sooayhooammng..”. jawab alvin susah payah dengan roti memenuhi mulutnya. Hahaha...

-----------------------------------------------------

Jam istirahat pertama berbunyi. 

Nggak perlu dibahas lagi suara belnya kayak apa {@#%$^%&^}. Kegiatan di kelas iko pada jam pelajaran pertama dan kedua tadi adalah ulangan dadakan bahasa indonesia. Seperti biasa bu yuli selalu memberikan surprise kepada muridnya. Bagi murid seperti iko, ulangan dadakan adalah bencana alam. Apalagi ulangan dadakan tersebut pada pelajaran bahasa indonesia. Memang kelihatannya mudah. Orang indonesia, lahir di indonesia, setiap hari menggunakan bahasa indonesia, tapi nilai bahasa indonesia iko selalu ancur. Berbeda halnya dengan teman sekelas iko seperti alvin, jessica, atau wilda. Mungkin ada kamus besar di otak mereka, hahaha...

Setelah beberapa jam mengalami panas dingin menghadapi soal ulangan, iko bergegas ke bawah pohon mahoni di depan kantin sambil menunggu bakso paling terkenal se antero sekolah iko, bakso mang jukin. Kali ini iko sendirian ke sana. Kemana alvin? Ah, nggak tau.. bodo amat dah. Tumben sekali sahabat iko tersebut tidak menemaninya di kantin. Sepi dah iko jadinya..

Jam istirahat itu iko habiskan dengan menyantap bakso di kantin sambil melanjutkan perbincangan lewat chat bersama sang nenek. 

“nek, lagi apa? Udah istirahat?”. Isi pesan iko yang dikirimnya ke winda.

“abis olahraga kek di gor sekolah.. ini lagi duduk duduk”. Jawab winda. 

Winda pernah ngomong kalo sekolahnya adalah satu satunya sekolah di jember yang memiliki GOR indoor. Wah kereen!. Pasti sekolah bagus tuh. Berbeda halnya dengan sekolah iko, untuk berolahraga, murid di sekolah iko harus berpanas panasan di lapangan multiguna di halaman sekolah. Adapun untuk olahraga senam dilakukan di aula lantai 2. Jadi, sekolah iko musti menyewa GOR DBL Arena di dekat sekolah iko apabila ingin mengadakan event perlombaan. 

Perbincangan iko dan winda di chat BBM berlangsung hingga waktu istirahat hampir usai. Meskipun banyak teman iko yang sedari tadi berdatangan ke kantin untuk beristirahat, tapi iko masih tetap berada di dunianya sendiri bersama sang nenek kesayangan.

Saat bel masuk  bersuara seperti jingle es miami berbunyi, dan iko sudah berpamitan ke winda untuk menuju kelas, iko mendapati seseorang yang tidak asing sedang duduk santai di samping ruang gudang sekolah. Alvin, sahabat iko yang sedari istirahat tadi tidak iko jumpai, ternyata sedang duduk berdua dengan jessica sambil menikmati 2 buah gelas pop ice. Woooaahh,,, ketahuan. Hahahaha... hayooo,, lagi telolet paling hahaha...

Iko mau kepoin alvin ah, jangan jangan mereka pacaran.. Selera alvin bagus juga. Kok bisa sih bocah kekanak kanakan kayak alvin pacaran sama cewek cantik seperti jessica? Ntar aku tanya-tanyain tuh monyet.

----------------------------------------------------
Jam demi jam berlalu, tak terasa seharian sudah iko menerima pelajaran di kelas. Kini saatnya waktu berkemas karena bel tanda pulang sekolah akan segera berbunyi. Iko tidak mendapati alvin sedang duduk di sampingnya. Si monyet sedang berduaan di pojok kelas. Anak polos kekanak kanakan itu hanya berbicara ala kadarnya untuk menjawab pertanyaan jessica yang duduk disampingnya. Terlihat sekali bahwa alvin masih canggung untuk duduk berdekatan dengan manusia cantik seperti jessica. Alvin hanya memainkan gantungan resleting tasnya sambil menjawab pertanyaan jessica yang dari tadi memainkan handphone baru alvin sambil tertawa. Tawa jessica tersebut mungkin karena melihat tingkah sahabat bodoh iko. Hahahaha...

“ko, jangan keluar dulu bentar lagi.. ada tawuran di depan. Kamu mau ikut nggak?”. Kata dennis yang tiba tiba muncul bersama teman gengnya, rifan.

“woh,, ngggak nggak. Aku gak minat sama yang begituan, sorry ya boy”. Jawab iko.

“yaaaahh, nggak solid. Oke deh, tetep di dalem gerbang sekolah aja, doain kita ya.. tunggu sampai aman baru dah keluar”. Kata rifan sambil mengeluarkan rantai dan gear motor dari dalam tasnya. 

Dennis dan rifan merupakan beberapa spesies murid pecinta tawuran. Mereka selalu bilang yes untuk bolos dan tawuran. Saat istirahat mereka ke warung depan sekolah, berkumpul dengan teman komplotannya untuk seekedar menikmati secangkir kopi dan rokok. Yap benar... mereka brandalnya sekolah iko.

Nampaknya isi pesan yang mereka kirimkan beberapa hari yang lalu benar benar akan terjadi sebentar lagi. Bagaimana bisa mereka yang masih berstatus sebagai pelajar, yang tugasnya menimba ilmu, malah bertindak anarkis seperti itu. Benar benar membuat malu diri mereka sendiri, sekolah, dan keluarga mereka. Akan dibawa kemana bangsa ini kalau generasi penerusnya masih berpikiran pendek seperti mereka. Iko cuman bisa berkata dalam hati iko... APA KATA DUNIAAA...

---------------------------------------------------

Siang itu, cuaca surabaya benar benar panas. Angin bertiup menerbangkan debu di lapangan basket yang kala itu terlihat memancarkan fatamorgana di permukaannya yang panas. Bel bersuara seperti jingle es miami yang suaranya njijiki telah berbunyi. Seperti himbauan beberapa teman iko, banyak murid murid menunggu di depan gerbang kala itu. Iko yang malas menonton keributan norak tersebut hanya duduk di samping salah satu kelas di sisi dalam gerbang. Mungkin saat ini dennis, rifan dan komplotannya sedang beradu jotos dengan murid smp lain sesuai dengan apa yang mereka katakan tadi hahaha. Entahlah... iko nggak mau tau, nggak mau ikut campur dengan hal tersebut. Norak!!!

Terdengar suara riuh ramai teman iko yang sedang menonton di dalam gerbang, yah... mungkin lagi dimulai tinjunya hahaha.. bodo amat!

.....................................

......................

“ko, itu alvin yah?”. Tanya ega, teman sekelas iko sambil menunjuk ke arah luar gerbang.

“hah? Mana ga?”. Jawab iko sambil mematikan mp3 di hape iko lalu melihat ke arah luar.




DHHHHUUUUAAARRRRRR.......



Si goblog ngapain jalan dengan santainya di luar gerbang? Seolah tanpa ada dosa, iko lihat dengan jelas bocah kekanak kanakan mengenakan tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum di sampingnya sedang berjalan menuju ke seberang jalan tanpa tahu situasi di sekitarnya.

Yaampun bego, ngapain kamu disitu... bahaya!!!

Iko yang tak berpikir panjang lagi, kemudian berlari menuju gerbang sekolah menerobos puluhan siswa yang tengah berkerumun melihat keributan di luar. Iko menghampiri si bodoh, alvin. 

“nyet, minggir.. bahaya!”. Teriak iko sambil berlari mendekat ke arah alvin.



Terlihat dari samping, seorang murid mengenakan baju seragam berbeda dengan seragam iko, sedang berlari menghampiri iko sambil membawa tongkat besi di tangan kanannya.

“nyet, goblog.. minggir, nyet!”. Teriak iko sambil menarik lengan alvin sehingga ia terjatuh di pinggir jalan.


PRAAAAANNGGGGG...



..........................................



Sebuah benda tumpul menghujam pelipis kanan iko sesaat setelah menarik lengan sahabatnya tersebut.

BUUUGGG... BUGGG.. PRRAAAANNGGGG... 


Dua kali iko merasakan ada tendangan di perut dan pukulan besi di kepala. Iko tersungkur di jalan. Mata iko sesekali melihat ke arah sahabat bodohnya yang tengah terdiam di pinggir jalan, mukanya cemas sekali.. terlihat semakin bodoh hahaha..... Kemudian iko melihat di sisi lain, dennis dan rifan menghampiri seseorang murid dari sekolah lain yang sedari tadi menghajar iko. Sepertinya dennis dan rifan melakukan hal yang sama, memukuli anak tersebut hingga berdarah.

“matek kon, rasakno! @@@@#@#@#@”. Teriak dennis dan juga omongan kotor si rifan sambil memukuli anak tersebut.

...................................................

Iko merasa lemas kala itu, jemari tangannya gemetar. Iko menyadari ada air berwarna merah menetes dari pelipis matanya. Iko mencoba meraba kepala bagian kanannya, ada darah yang juga menetes dari sana. Pandangan iko semakin buram.. pemandangan mengerikan tersebut seolah menjadi pekat menghitam. Suara teriakan dennis dan rifan, serta teman teman lainnya yang sedang melihat keributan tersebut semakin terasa pelan hingga kemudian tidak iko dengar lagi. Hanya suara mendengung yang kini iko dengar.

Iko kembali meraba pelipis mata kanannya.. awwww... sakit. Pusing sekali... 

kemudian...

Gelap... 

semakin Gelap...

Tenang.....

Hening sekali...

----------------------------------------------

Iko kecil merasakan hembusan angin sore di sebuah tepian sungai yang memiliki gundukan tinggi sebagai pembatas, ada rumput ilalang bergerak mengikuti arah angin melaju..

“mas, kita mau ngapain sih?”. Tanya milo masih bingung.

“anu, ini kita mau nyoba meluncur, kamu pegangan yang kuat yoh..”. perintah iko kecil ke adiknya sambil bersiap mengayuh sepeda menuruni turunan tajam di tepian sungai.

Suuuuuurrrrrrrrr...... seru sekali meluncur di turunan dam pembatas sungai, iko kecil berteriak... begitu pula milo.. hahahaha.....

Tiba tiba... 

BRUKKK!!!

“Aw, kaki milo, mas”. Kata milo merengek..

“yaelah, ini anak.. lututku juga sakit tau, hahaha.. nggak usah nangis yo!”. Kata iko kecil sambil tertawa ke adiknya.

Tapi milo mungkin merasa kesakitan, dia menangis hingga sampai rumah.

“ngapain aja kamu itu heh? Kamu itu udah gede masih aja kekanak kanakan. Harusnya kamu itu jagain adikmu. Lihat kalo gini, bapak yang repot”. Kata bapak dengan nada marah sambil menjewer tangan iko kecil seolah tengah murka.

“ahhh sakit pak, sakit.. ampuuunn”. Teriak iko kecil kesakitan.

Ditengah rengekan kesakitan iko kecil, sang bapak berkata..

“KALO SAMPAI TERJADI APA SAMA MILO, KAMU JANGAN PERNAH TIDUR DI RUMAH LAGI!”. 

Apa? Nggak boleh tidur di rumah? Yawes, iko tidur di emperan toko. Kan ada kardus akua hahaha..

“udah pak, sabar. Iko masih kecil”. Kata emak.

------------------------------------------------------------------

Bau apa ini? Bau obat? Aduh.. pengen muntah, iko nggak suka bau bau yang kayak beginian..

“nyet! Hiks hiks.. nyet!”. 

Kepala iko berat banget deh, badan iko sakit semua.. anjirr.. 

“nyet, bangung nyet.. hoii!” 

Buat melek susah banget nih mata, siapa tadi yang manggil? Sialan.. 

.........................................................

Iko membuka mata iko pelan pelan, terlihat samar dari pandangan iko terdapat sesosok bocah bermuka mesum dan bermata sipit. Tapi kalo dilihat lihat mata sipitnya berwarna agak kemerahan. Naaaaaahhh loh, si alvin hahaha..

“apa nyet? Dimana inih?”. Tanya iko ke alvin dengan nada lirih.

“di pasar turi nyet, hiks... kita lagi belanja ikan asin”. Jawab alvin dengan nada seperti orang menahan tangis.

“eh, iko. Udah bangun nak. Alhamdulillah kamu udah sadar”. Kata seseorang disamping alvin, orangnya mirip iko tapi agak tuaan. Yah,, itu bapak iko.

“ko, kamu lagi di rumah sakit darmo inih. Tadi alvin sama mas supirnya yang bawa kamu. Trus bapakmu aku yang jemput”. Kata denis di samping iko dengan muka sok pahlawan. Ada rifan juga yang sedang memakan buah anggur satu persatu sambil memperhatikan iko hahaha.

“oalah.. hehehe..”. tawa iko sedikit memaksakan, sekedar untuk memberitahukan kepada seluruh orang di ruangan tersebut bahwa keadaan iko baik baik saja.

Iko meraba muka iko dengan tangan kanan iko, wah.. ada perban di pelipis mata. Di kepala juga ada, perbannya muter sampek ke belakang lagi. Waduh.. iko baru sadar kalau tadi iko terkena pukulan seseorang dari smp sebelah setelah sebelumnya iko meraih lengan temannya, alvin. Apa kabar tuh bocah? Hahaha...

“vin, matamu merah gitu, abis ngiris bawang ye?”. Ejek iko sambil ketawa.

Alvin hanya tersenyum bego, ciri khas dia dah. Sudah paten hahaha...

Iko sadar sudah sekitar 4 jam dia berada di rumah sakit. Setelah beberapa menit ngobrol dengan bapak, dennis dan rifan pamit untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sebentar lagi iko juga mau diantarkan pulang oleh alvin bersama bapak. Kata bapak, biaya rumah sakit iko sudah dibiayai oleh mamanya alvin. Beliau tadi menelfon bapak dan mengucapkan terimakasih ke iko karena telah menyelamatkan alvin dari keributan di sekolah.

Iko sampai sekarang belum percaya hal ini terjadi pada diri iko. Yang jelas, iko melihat temannya, sahabat di samping meja belajar kelasnya, si bocah chinnese bermuka mesum bisa menangis. Hahahaha... begooo bego!

Iko pulang dulu ke rumah. Kangen si milo sama emak. Ntar nyampe rumah, iko mau ngabarin si nenek tentang apa yang terjadi seharian ini, tentang teman iko yang nangis padahal udah gede, tentang apa lagi yah? Tentang gombalan maut iko, yang pasti hahaha...

(bersambung ke chapter 5).




Itchy Thumb Syndrome Chapter 3



Itchy Thumb Syndrome
Chapter 3. Bumi dan Langit (part 2)

Jumat, 9 Agustus.

Sepulang dari sholat jumat di masjid dekat komplek perumahan alvin, iko langsung menaiki motor matic menuju rumah alvin. Yah, gampang banget ini mah.. matic, biasanya iko naik motor verza milik bapak yang pake kopling. Motor honda vario milik alvin ini terasa masih halus tarikannya, kayaknya belum merasakan kasarnya aspal jalan hahaha.. kayaknya alvin naiknya pelan abis sih.

Begitu pelan iko melajukan motor alvin siang itu, sambil menikmati jalanan di perumahan mewah dengan tata letak taman yang rapi, bersih dan begitu serasi dengan indahnya rumah di setiap sisinya. iko tersenyum sambil membayangkan jikalau suatu hari nanti iko bisa pindah ke perumahan tersebut hahaha ngayal ikonyah..

Akhirnya iko sampai di rumah alvin. Iko memarkir motor kesayangan si bego, alvin, tepat disamping dua mobil keren milik teman iko tersebut. Ada honda all new jazz merah seri RS keluaran 2014 dengan tulisan “koko alvin” di kaca belakang, ada juga range rover sport warna putih yang kelihatannya baru. Iko meletakkan helm alvin bergambar cibi maruko chan di spion motor alvin dan bergegas menuju pintu rumah alvin yang masih terbuka. Tetapi dari luar terdengar perbincangan si bocah kekanak kanakan tersebut dengan mamanya.

“maaah,, masak cuman alvin yang nggak ada walinya, yang lain loh pada ditemenin papa mamanya”. Rengek alvin.

“koko, mama kan sibuk, nanti habis resital biolamu, kita adain acara syukuran kecil kecilan di rumah gimana? Koko musti bisa ngertiin mama dong, kan udah gede. Mama lagi sibuk loh nak. Minggu depan papa juga bakal balik kok, sabar yah. Koko sama bibi aja ke resitalnya, oke?”. Jawab mama alvin.

“yaahh,, terserah deh”. Rengek alvin sok polos padahal tiap hari mesum di kelas. Dasar lu nyet, anjirrr.. hahaha..

TOK TOK..

“Siang tante”. Sapa iko ke mamanya alvin sambil memasang muka imut + senyum termanis.

“eh, dek iko, sudah shalat jumatnya, yaudah ayo makan siang, habis ini ikut tante sama alvin ke bandara bentar ya. Tante mau ke jogja dek”. Kata mamanya alvin.

“beres tante”. Jawab iko dengan muka cengengesan.

Iko, alvin dan mamanya pergi ke dapur yang berada di belakang ruang tamu. Setelah duduk di meja makan, iko kaget dengan makanan yang disediakan keluarga alvin. Banyak banget sumpah... ada ikan mujaer tapi udah dipotong kecil kecil tinggal dagingnya ajah, ada acar timun, nugget panas yang kalo dicium kayaknya dari ikan laut, ada capjay dengan brokoli dan wortel cincang yang menggugah selera makan, plus ayam goreng berselimut tepung, uwah banget coy. Kali ini iko benar benar menelan ludah. Seumur umur makanan yang kayak gini nih iko santap kalo lagi ada hajatan sunat atau mantenan di komplek iko tinggal, kali ini bisa iko pastikan makanan alvin setiap hari nggak jauh jauh dari kata lezat kayak yang tersaji di meja makan mereka. 

“mari, dek iko. Jangan sungkan sungkan, anggep aja rumah sendiri, hehehe”. Kata mama alvin sembari menuangkan nasi ke piring alvin dan iko.

“iya, terima kasih tante”. Jawab iko sambil cengengesan melihat alvin yang sembari tadi ikut tersenyum dengan tingkah iko.

“koko nih anaknya ngalem loh mas, dari kecil pengennya dimanja trus sama mamanya, tuh lihat mas, udah gede juga tingkahnya masih kayak anak anak hehehe...”. kata mamanya alvin.

“dhhooeeehhh mmhaemhaee, kkook nghomongg githuu”. rengek alvin sambil mengunyah makanan di mulutnya yang kelihatannya nggak muat, kelihatan malu tuh bocah haha..

“hahaha,, iya tante, di sekolah juga si “monyet” emang agak ngalem. Emang sih pinternya kebangetan. Cuman sayangnya kalo lagi makan bakso atau apa mintanya suruh iko yang motongin lah, suruh bukain bungkus lah, syukur syyukur nggak suruh nyuapin ahahahahahaha...”. jawab iko sambil cengengesan.

“mas iko, jagain alvin ya kalo disekolah”. Kata mama alvin.

“tenang tan, jatmiko selalu siap”. Jawab iko sambil senyum.

Idih, ogah ikonyah kalo disuruh jagain nih monyet, tingkahnya mirip bocah. Iko sih nganggepnya bukan njagain, tapi memelihara peliharaan hahaha.

Perbincangan iko dan alvin serta mamanya berlangsung hangat saat di meja makan. Iko baru sadar kalau saat itu sudah habis 4 nugget ikan uppss, gpp mamanya alvin baik banget orangnya. Obrolan iko dan mamanya alvin tidak jauh dari aib alvin si bocah kekanak kanakan, jadi korban dah tuh anak hahaha... 

------------------------------------------------------

“nyet, lu pake kaos alvin aja. Masak pake kaos gambar minyak telon gitu? Kita kan mau nganter mama”. Pinta si alvin sambil menyodorkan kaos raglan putih dengan lengan hitam. Mungkin alvin agak ilfil lihat kaos ganti yang iko keluarkan dari dalem tas, iko sengaja bawa kaos hadiah dari minyak telon cap kaki tiga yang didapat dari bapak iko hasil promosi produk minyak tersebut. hahaha..

Iko telah siap dengan celana pendek, sepatu dan kaos dari alvin yang dipinjamkan ke iko. Kini iko, alvin dan mamanya berangkat ke bandara juanda untuk mengantarkan mamanya alvin.

Take off-nya sih masih jam 3, cuman untuk boarding bisa memakan waktu 1 jam. Jadi kita bergegas menuju bandara yang jaraknya lumayan jauh. Jalur yang dilewati mobil alvin melewati tol yang terkoneksi langsung dari depan pintu masuk perumahan alvin menuju bandara, keren dah,, eksklusif banget perumahannya. Iko takjub!!! Saat itu, iko dan alvin duduk di kursi belakang, sedangkan mamanya alvin di depan bersama sang sopir keluarga mereka. Tidak butuh waktu lama, mobil range rover putih milik keluarga alvin sampai di terminal II bandara internasional Juanda. Jarang jarang iko masuk sini. Foto dulu ah pas di depan tulisan Juanda International Airport, abis ini dijadiin display picture di BBM. Kumat si iko noraknyah hahaha...

---------------------------------------------

“nyet, nih...”. alvin menyodorkan minum yang dibelinya di dalem bandara.

Iko memang haus saat itu, kurang lebih setengah jam iko menunggu di dalem mobil sedangkan alvin, sang sopir dan mamanya menuju ke dalam bandara. 

“woh thanks, udah berangkat nyet?”. Jawab iko sambil mengambil robusta iced coffee yang terbungkus gelas plastik bergambar wajah manusia berwarna hijau. Wah gilaaaakk starbuck!!.

“ntar lagi nyet, tapi kita tinggal aja dulu”. Jawab alvin sambil masuk ke dalam mobilnya.

Mobil alvin kembali melaju meninggalkan bandara juanda menuju ke sebuah mall di daerah surabaya pusat. Alvin mengajak iko main ke sebuah restoran franchise asal amerika dengan menu ayam goreng krispi sebagai andalannya. Sore itu iko dan alvin habiskan dengan ngobrol sambil melihat pemandangan kota surabaya dari atas rooftop restoran tersebut. Sungguh pengalaman baru bagi iko kala itu hahahaha.. thanks nyet.

Setelah kenyang dengan french fries large, whole chicken original dan tropicana twister yang dipesan alvin dan iko, kita kembali ke rumah si bego, alvin.

Seneng banget iko dah, diajak maen ke mall dan makan di salah satu restoran di dalamnya. Andai saja iko seperti alvin, yang bisa setiap hari bebas kemana saja. Tapi iko sudah sangat bersyukur bisa berada di keluarga sederhana di rumah iko. Meskipun terkadang untuk keluar rumah saja si emak melarang, untuk membeli pulsa paket internet saja bapak menolak, tapi iko sudah sangat bahagia. Ah,, jadi kangen emak, bapak sama si curut, milo.. hahaha.

Setelah 30 menit perjalanan menuju rumah alvin, kini mobil alvin sudah tiba di rumah besarnya itu. Alvin segera memasuki kamarnya. Sedangkan iko buru buru mengambil wudhu karena jam shalat ashar tinggal sekitar 40 menit sebelum jam 5. 

Nek, abis ini lanjut chat lagi yah.. hahaha, iko kangen ngobrol sama nenek, uwoooo......

Iko dengan khusyu melaksanakan kewajibannya shalat ashar di mushola keluarga alvin. Ternyata ada beberapa saudara dari alvin yang muslim. Mushola tersebut sengaja papa alvin sediakan untuk salah satu keluarga mereka apabila berkunjung ke rumah alvin. Benar benar toleransi yang sangat terjaga baik di keluarga non muslim ini. Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan antara anggota keluarga yang memiliki perbedaan keyakinan. Harmonis sekali.

Setelah shalat, iko berjalan menuju kamar alvin di lantai atas. Sesekali iko melihat figura foto yang terpajang di setiap sisi tangga rumah dari bawah hingga atas. Terdapat foto anak kecil yang putih banget dengan mata sipit dan badan bulat seperti bo bo hoo dengan latar great wall di china, yah, itu mungkin si alvin saat masih kecil. 

Ada juga foto alvin semasa kecil yang menangis sambil membawa biola di atas panggung kecil. Hahaha lucu...

Saking asyiknya memandangi deretan foto alvin, iko tidak sadar kalau kini sudah berada di depan pintu kamar alvin. Dengan pintu yang tidak terkunci, iko segera masuk ke dalam dan mendapati alvin sedang duduk rapi menghadap ke jendela kamarnya. Iko nggak tau pasti apa yang dilakukan si bocah tersebut, mungkin lagi ngelamun hahaha..

Iko tanpa pamit langsung loncat ke kasur empuk alvin saat itu. 
Bluuuuggggg.... ahhhh,,,

Iko langsung membuka hape kesayangan iko, terlihat notifikasi pesan dari beberapa akun bbm di dalamnya. Ada rifan dan denis, para preman di kelasnya iko hahaha. Ada pesan juga dari milo, juga ada sang kesayangan, winda. Iko buka satu persatu.

“ko, kesok senin enek arek smp ** arep bentrok nak ngarep gerbang sekolah, awakmu melok ta gak? Isi bbm rifan.

“ko, ewangi aku, aku tadi ada masalah sama dendi anak smp **, kesok senin ewangi yo kalo ada apa apa, koyoke seng nyekel smp ** arep ngedrop sekolahan”. Isi chat denis.

Busyet, dua bocah tersebut tak henti hentinya membuat masalah, kalo nggak bolos sekolah ya tawuran. Yang kayak gini nih, iko males ikut campur. Biarin dah nggak iko bales pesan mereka..

“mas, sampean dicari ibuk lis lagi.. bawain kaos dari mojokerto mas, batik. Kalo nggak mau biar milo yang pake, lumayan ee ukurannya pas”. pesan dari milo.

“enak aja, sampaikan ke bu lis, terimakasih banyak”. Jawab iko singkat ke milo.

Bu lis, lishadi siapa gitu.. baik banget, entah iko nggak tau siapa beliau, yang jelas emak iko sudah menganggap bu lishadi seperti keluarga sendiri. Terkadang setelah beliau tiba dari perjalanan luar kota, beliau selalu menyempatkan ke rumah iko untuk memberikan bingkisan oleh oleh ke milo dan iko. Makanan, pakaian, dan lain lain. Terima kasih banyak bu lis.

“kakeeeeekk... bales dong kek”. Isi pesan dari winda.

Wah banyak banget pesan dari winda, sori sori nek, baru ngaktifin paket data ikonyah. Hehehe.. perhatian banget si nenek. 

“maaf nek, baru bales. Kakek sibuk dari tadi nganter temen kakek”. Jawab iko dalam pesan bbmnya.

“iya gpp kek, kakek udah maem?”. Dari winda.

“udah nek, tadi ditraktir temen makan di kfc di mall, pengalaman pertama kakek tuh nek. Nenek sendiri udah maem belom?”. Jawab iko lagi sambil membayangkan saat itu sang nenek ngobrol dan berada di sampingnya. Uuhhh soo suiitt coyy.. haha..

Sekali lagi.. puluhan kali CETTUNGG!! Terdengar dari hape iko, isinya cuman chat dari iko ke winda. Si alvin masih di jendela kamar menghadap keluar, tetapi bedanya kini dia memainkan iphone 7 barunya. Kegiatan yang terlihat membosankan tersebut berlangsung hingga waktu maghrib tiba. Iko berhenti sejenak untuk menunaikan ibadah maghrib. Sedangkan alvin ijin keluar untuk membeli makan di pujasera terkenal se antero surabaya yang jaraknya benar benar dekat dari rumahnya.

“nek, udah shalatnya?”. Iko mengirim pesan tersebut kembali setelah menjalankan shalat maghribnya.

“udah kek, aku mau curhat boleh?”. Balas winda.

“gini kek, aku tuh sekarang kan lagi ikut pramuka, nah aku sendiri ditunjuk jadi ketua reguku. Kebetulan banget anggota dari reguku nggak ada yang punya inisiatif buat mengembangkan potensi mereka untuk kelompok. Jadi aku sebagai ketua cuman sendirian mengatur kelompok. Gimana yah supaya mereka sadar?”. Isi curhatan sang nenek, winda.

“oalah, gimana ya nek. Aku nggak pernah ikut organisasi pramuka sih. Aku nggak begitu tertarik sama kegiatannya, tapi menurutku, nenek harusnya nggak bekerja sendirian. Nenek kan sebagai ketua, tugas nenek cuman mengorganisir, bukan bekerja. Nenek tinggal membagi setiap anggota ke dalam beberapa bagian tugas. Biarkan mereka bekerja. Kalau pun nanti hasilnya mereka nggak totalitas ngerjainnya, bukan salah nenek. Kan nenek udah mengatur di awal. Ya kan?”. Jawab iko sok bijak, padahal nggak ngerti apa apa hahaha...

Setelah sekian lama curhat mengenai problematika sang nenek tentang sulitnya menggorganisir kegiatan pramukanya, dan solusi yang nggak begitu jelas dari iko sudah diberikan. Si alvin tiba dengan menenteng plastik bungkus nasi merah dan ikan bakar, ada tulisannya “wong ndeso” di kantong plastik tersebut. Kelihatannya makanan tersebut dibelinya di pujasera perumahannya. Wah masih kenyang iko, baru beberapa jam lalu menyantap paha ayam di mall, sekarang udah dibawain makanan sama alvin. 

“nyet, abis ini makan nyet, jangan chat dulu. Keriting tanganmu ntar hahahaha...”. kata alvin sambil menaruh bungkus nasi tersebut.

“nyet, enak banget mau beli tinggal ambil duit di dompet, lagian baru tadi sore kan kita makannyah..”. kata iko,

“gak mau ya? Yaudaah sini aku abisin hahaha”. Jawab alvin sambil meraih bungkus nasi tersebut.

“enak aja, masih muat niiih,, nooohhh..”. jawab iko sambil memainkan perut iko yang agak gendut hahaha..

Iko sejenak menghentikan aktivitas chattingnya dengan nenek, tentunya sudah pamit dengan sang kesayangannya tersebut. Kini iko coba menikmati ayam bakar dengan nasi merah yang terkenal di surabaya yang dibeli alvin di pujasera dekat rumahnya. Enak sekali teman teman,, mau? Datang aja ke surabaya hahahaha... ngehe..

Jam menunjukkan pukul 9 malam, sudah berjam-jam iko dan alvin ngobrol kesana kemari, perbincangan mengenai serial kartun, ocehan alvin tentang pelajaran matematika, gosip tentang pak bambang guru bahasa inggris yang galak, tentang game console milik alvin yang juga dimainin dari sore oleh alvin dan iko, serta hal absurd lainnya yang kayaknya nggak penting dimunculkan di cerita ini wkwkwkwk...

Posisi kita pun berubah ubah, dari yang duduk di kursi belajar, bersila di rooftop kamar alvin, hingga tiduran menghadap atap kamar alvin yang dihiasi lampu minim cahaya.

“nyet, enak nggak sih jadi kamu?”. Tanya iko.

“lah, kok tanya gitu?”. Jawab alvin.

Iko terdiam beberapa detik menatap lebih jauh ke arah lampu kamar alvin. 

“nyet, kamu beruntung banget bisa merasakan keluarga yang sempurna. Kamu mau ini mau itu, bisa dibeli. Kamu beruntung punya mama yang baik seperti mamamu. Apapun itu, asalkan itu adalah fasilitas buat hidup kamu, buat pendidikan kamu, beliau selalu menuruti. Enak sekali yah... hhhaaahhhmmm...”. kata iko disertai helaan nafas penuh arti.

“Puji Tuhan, aku bahagia banget nyet, meskipun terkadang mereka nggak ada waktu buat aku. Dan kadang aku yang egois, mementingkan diriku sendiri, meminta mereka hadir di beberapa acaraku, padahal mereka lagi sibuk. Aku benar benar egois nyet”. Kata alvin.

Sungguh dewasa sekali alvin, bocah yang terlihat kekanak kanakan tersebut memang memiliki tampilan layaknya bocah, tetapi iko sadar bahwa alvin adalah sosok sahabat yang memiliki pemikiran dewasa. Lain halnya dengan iko.. selalu mengejar hal yang berbau materil, melihat sesuatu dari luarnya, dan selalu berpikiran pendek sebelum bertindak.
“eh, btw, resital tuh apa nyet?”. Tanya iko..

“haha.. aku ikut les biola, ko. Minggu depan di tempat les ada pertunjukan biola bagi siswa yang ingin melanjutkan ke kelas berikutnya. Resital tuh istilahnya ujian nyet. Biasanya resital dihadiri wali murid, tapi kali ini lagi lagi papa mama alvin sibuk dengan pekerjaan mereka di luar kota”. Jawab alvin sambil memejamkan matanya.

“oalah, sama bibi yang tadi kan bisa.. atau aku aja yang kesana, kali aja temen lesmu cantik cantik, biasanya orang sipit sedap dipandang mata hahaha...”. jawab iko sambil nyengir.

“yaelah pikiranmu, biar aku sama bibi aja nyet. Udah biasa itu mah hahaha”. Kata alvin.

“nyet aku tadi lihat di foto yang ada di tangga. Itu kamu ya yang nangis di panggung sambil bawa biola?”. Tanya iko lagi.

“woh, iyo nyet. Itu dulu waktu kelas 3 kalo nggak salah. Biola itu milik opa alvin. Katanya sih keramat banget, makanya gak pernah ada yang nyeteam senarnya, saat itu alvin nyoba biola tersebut buat resital alvin di tempat les kala itu. Tapi di tengah lagu, senar biolanya putus satu, aku bingung mau ngapain, namanya bocah ya aku cuman bisa nangis dan nggak ngelanjutin lagunyah hahaha...”. jawab alvin malu tetapi tetap tertawa terbahak bahak..

“yaelah, kasian si monyet kecil”. Kata iko sambil menaruh upil hasil buruannya ke tangan alvin.

“anjirrr, sialan lo.. wah jijik coy”. Alvin membalas melempar bantal berbentuk kepala naruto di sampingnya.

Hahahaha.... dasar bocah culun, iko mah nggak mempan sama pukulan bantal, rasain nih upil gede.. nyohh hahaha...

Obrolan iko dan alvin berlanjut hingga larut malam, sesekali iko membuka pesan masuk dari winda sang kesayangan. Kemudian lanjut memperbincangkan obrolan absurd khas bocah ababil hingga mereka tertidur....

(bersambung ke chapter 4).