Itchy
Thumb Syndrome
Chapter
4. Nyet, bangun!
Senin, 12 agustus.
Pagi yang sangat dingin di tengah
kampung perkotaan. Kali ini berbeda halnya dengan yang iko dan milo lakukan
sebelumnya. Milo secara ajaib bangun pagi dan mengajak kakaknya untuk berjamaah
di mushola dekat rumah mereka. Tadi malam milo memang tidur lebih awal,
sehingga kali ini si spesimen malas tersebut bisa bangun pagi. Milo mendapatkan
sebuah hadiah dari bapaknya berupa handphone baru bermerek china. Meskipun
begitu, spesifikasi handphone tersebut sangat mumpuni untuk sekedar bermain
game, ataupun berselancar di dunia maya. Selamat ya milo!!
Secara teoritis, tingkat mood
dalam diri seseorang yang tengah bahagia akan mempengaruhi kualitas tidur orang
tersebut, hal itu terbukti nyata melihat sedari malam milo nampak pulas
tertidur dengan handphone barunya di samping. Lagi lagi milo tidur di kamar
iko. Heeeeeuuuhhh....
Hawa dingin di pagi buta,
diiringi suara petok petok dari
beberapa ayam jago milik tetangga iko. Benar benar suasana yang jarang iko
temui selama ini. Setelah mandi dan berpakaian rapi, iko dan milo menyusul emak
dan bapak yang lebih dulu berada di mushola. Yah,, ini sudah cukup bagi iko.
Kebahagian yang iko cari, yang iko idamkan, sebenarnya sudah tertata rapi
setiap hari andai saja iko bisa membuka mata dan menerima kondisi keluarga iko
saat ini. Terima kasih Tuhan telah membuka mata iko kembali di hari senin ini
sehingga iko bisa bersama mereka lagi....
“mas, ngadep sini lah.. guyu-o”.
Pinta milo yang sedang berusaha mengajak iko ber-swafoto dengannya menggunakan hape barunya. Terlihat rona ceria
adik semata wayang iko kala itu.
“woh, aku sengaja nggak ngadep ke
kamera, ndol.. namanya candid “. Jawab
iko.
Sebenarnya iko sedikit malas
untuk berfoto ria dengan milo. Mata iko kembali ngantuk kala itu hahahaha...
efek bawaan itumah.. eh, ngabarin nenek dulu ah ikonyah! Kan keren ntar,
biasanya nenek yang chat duluan, kali ini iko mau jadi yang pertama memberi
salam hangat buat pagi si nenek kesayangannya, winda.
“nenek, udah bangun belom? Buruan
shalat gih.. keburu terang langitnyah..”. iko cek dulu kali aja ada yang salah
kata, yap, udah bener, KLIKKK.. terkirim.
Sambil nunggu winda membalas chat
iko, iko menuju ke toko milik bapak yang berada tepat di samping rumah. Bapak
iko dulu adalah karyawan di salah satu perusahaan pupuk di gresik. Entah karena
alasan apa, yang jelas saat itu iko masih kecil, bapak mengundurkan diri dari
pekerjaannya dan lambat laun mulai membuka usaha toko bahan sembako dan
peralatan rumah. Iko sadar, ternyata setiap hari bapak sudah terbangun di pagi
sekali lalu menyiapkan isi toko dan membuka bilah demi bilah dinding kayu
penutupnya. Kemana ajaa iko selama ini, iko terlalu malas.
---------------------------------------------
Jam sudah menunjukkan pukul 6
pagi. Iko dan milo sudah sarapan bersama bapak dan emak, setelah mempersiapkan
kembali perlengkapan ke sekolah, iko berangkat bersama bapak dan milo,
tentunya. Motor butut kesayangan bapak menerobos perkampungan di tengah kota
surabaya mengantarkan kedua jagoannya menuju tempat mereka menimba ilmu. Selalu
terselip wejangan wejangan motivasi dari sang bapak kepada iko dan milo agar
lebih bersemangat dalam bersekolah. Sekitar 15 menit melajukan motornya,
akhirnya tibalah iko di smp yang nggak begitu terkenal, smp kesayangannya.
Hahaha...
“pak, iko sekolah dulu,
Assalamualaikum”. Pamit iko sambil menjabat tangan bapak dan milo, tak lupa
pula senyum manis mirip aliando ia berikan hahahaha... ngehe.
Iko berjalan menuju gerbang
sekolah ditemani beberapa kawan iko. Ada wilda si gendut yang selalu rangking 1
dari dulu kelas 7 hingga saat ini. Ada jessica si cantik dengan gigi berbehel yang
selalu menggoda iman hahaha. Di sisi jalan, iko melihat seorang bocah kekanak
kanakan memakai tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum Tupperware
bergambar boboiboy sedang berlari ke arah iko setelah keluar dari mobil yang
mengantarnya, hahahaha... tau sendiri lah siapa, sahabat paling ngehe-nya iko,
si alvin.
“eh, anak mami rapi banget...”.
kata jessica menggoda alvin yang tengah sibuk menyantap sandwichnya.
“woaaah, iyha sooayhooammng..”.
jawab alvin susah payah dengan roti memenuhi mulutnya. Hahaha...
-----------------------------------------------------
Jam istirahat pertama berbunyi.
Nggak perlu dibahas lagi suara
belnya kayak apa {@#%$^%&^}. Kegiatan di kelas iko pada jam pelajaran
pertama dan kedua tadi adalah ulangan dadakan bahasa indonesia. Seperti biasa
bu yuli selalu memberikan surprise
kepada muridnya. Bagi murid seperti iko, ulangan dadakan adalah bencana alam. Apalagi
ulangan dadakan tersebut pada pelajaran bahasa indonesia. Memang kelihatannya
mudah. Orang indonesia, lahir di indonesia, setiap hari menggunakan bahasa
indonesia, tapi nilai bahasa indonesia iko selalu ancur. Berbeda halnya dengan
teman sekelas iko seperti alvin, jessica, atau wilda. Mungkin ada kamus besar
di otak mereka, hahaha...
Setelah beberapa jam mengalami
panas dingin menghadapi soal ulangan, iko bergegas ke bawah pohon mahoni di
depan kantin sambil menunggu bakso paling terkenal se antero sekolah iko, bakso
mang jukin. Kali ini iko sendirian ke sana. Kemana alvin? Ah, nggak tau.. bodo
amat dah. Tumben sekali sahabat iko tersebut tidak menemaninya di kantin. Sepi
dah iko jadinya..
Jam istirahat itu iko habiskan
dengan menyantap bakso di kantin sambil melanjutkan perbincangan lewat chat
bersama sang nenek.
“nek, lagi apa? Udah istirahat?”.
Isi pesan iko yang dikirimnya ke winda.
“abis olahraga kek di gor
sekolah.. ini lagi duduk duduk”. Jawab winda.
Winda pernah ngomong kalo
sekolahnya adalah satu satunya sekolah di jember yang memiliki GOR indoor. Wah
kereen!. Pasti sekolah bagus tuh. Berbeda halnya dengan sekolah iko, untuk
berolahraga, murid di sekolah iko harus berpanas panasan di lapangan multiguna
di halaman sekolah. Adapun untuk olahraga senam dilakukan di aula lantai 2.
Jadi, sekolah iko musti menyewa GOR DBL Arena di dekat sekolah iko apabila
ingin mengadakan event perlombaan.
Perbincangan iko dan winda di
chat BBM berlangsung hingga waktu istirahat hampir usai. Meskipun banyak teman
iko yang sedari tadi berdatangan ke kantin untuk beristirahat, tapi iko masih
tetap berada di dunianya sendiri bersama sang nenek kesayangan.
Saat bel masuk bersuara seperti jingle es miami berbunyi,
dan iko sudah berpamitan ke winda untuk menuju kelas, iko mendapati seseorang
yang tidak asing sedang duduk santai di samping ruang gudang sekolah. Alvin,
sahabat iko yang sedari istirahat tadi tidak iko jumpai, ternyata sedang duduk
berdua dengan jessica sambil menikmati 2 buah gelas pop ice. Woooaahh,,, ketahuan. Hahahaha... hayooo,,
lagi telolet paling hahaha...
Iko
mau kepoin alvin ah, jangan jangan mereka pacaran.. Selera alvin bagus juga.
Kok bisa sih bocah kekanak kanakan kayak alvin pacaran sama cewek cantik
seperti jessica? Ntar aku tanya-tanyain tuh monyet.
----------------------------------------------------
Jam demi jam berlalu, tak terasa
seharian sudah iko menerima pelajaran di kelas. Kini saatnya waktu berkemas
karena bel tanda pulang sekolah akan segera berbunyi. Iko tidak mendapati alvin
sedang duduk di sampingnya. Si monyet sedang berduaan di pojok kelas. Anak
polos kekanak kanakan itu hanya berbicara ala kadarnya untuk menjawab
pertanyaan jessica yang duduk disampingnya. Terlihat sekali bahwa alvin masih
canggung untuk duduk berdekatan dengan manusia cantik seperti jessica. Alvin
hanya memainkan gantungan resleting tasnya sambil menjawab pertanyaan jessica
yang dari tadi memainkan handphone baru alvin sambil tertawa. Tawa jessica
tersebut mungkin karena melihat tingkah sahabat bodoh iko. Hahahaha...
“ko, jangan keluar dulu bentar
lagi.. ada tawuran di depan. Kamu mau ikut nggak?”. Kata dennis yang tiba tiba
muncul bersama teman gengnya, rifan.
“woh,, ngggak nggak. Aku gak
minat sama yang begituan, sorry ya boy”. Jawab iko.
“yaaaahh, nggak solid. Oke deh,
tetep di dalem gerbang sekolah aja, doain kita ya.. tunggu sampai aman baru dah
keluar”. Kata rifan sambil mengeluarkan rantai dan gear motor dari dalam
tasnya.
Dennis
dan rifan merupakan beberapa spesies murid pecinta tawuran. Mereka selalu bilang
yes untuk bolos dan tawuran. Saat istirahat mereka ke warung depan sekolah,
berkumpul dengan teman komplotannya untuk seekedar menikmati secangkir kopi dan
rokok. Yap benar... mereka brandalnya sekolah iko.
Nampaknya isi pesan yang mereka
kirimkan beberapa hari yang lalu benar benar akan terjadi sebentar lagi.
Bagaimana bisa mereka yang masih berstatus sebagai pelajar, yang tugasnya
menimba ilmu, malah bertindak anarkis seperti itu. Benar benar membuat malu
diri mereka sendiri, sekolah, dan keluarga mereka. Akan dibawa kemana bangsa
ini kalau generasi penerusnya masih berpikiran pendek seperti mereka. Iko cuman
bisa berkata dalam hati iko... APA KATA DUNIAAA...
---------------------------------------------------
Siang itu, cuaca surabaya benar
benar panas. Angin bertiup menerbangkan debu di lapangan basket yang kala itu terlihat
memancarkan fatamorgana di permukaannya yang panas. Bel bersuara seperti jingle
es miami yang suaranya njijiki telah
berbunyi. Seperti himbauan beberapa teman iko, banyak murid murid menunggu di
depan gerbang kala itu. Iko yang malas menonton keributan norak tersebut hanya
duduk di samping salah satu kelas di sisi dalam gerbang. Mungkin saat ini
dennis, rifan dan komplotannya sedang beradu jotos dengan murid smp lain sesuai
dengan apa yang mereka katakan tadi hahaha. Entahlah... iko nggak mau tau,
nggak mau ikut campur dengan hal tersebut. Norak!!!
Terdengar suara riuh ramai teman
iko yang sedang menonton di dalam gerbang, yah... mungkin lagi dimulai tinjunya
hahaha.. bodo amat!
.....................................
......................
“ko, itu alvin yah?”. Tanya ega,
teman sekelas iko sambil menunjuk ke arah luar gerbang.
“hah? Mana ga?”. Jawab iko sambil
mematikan mp3 di hape iko lalu melihat ke arah luar.
DHHHHUUUUAAARRRRRR.......
Si goblog ngapain jalan dengan
santainya di luar gerbang? Seolah tanpa ada dosa, iko lihat dengan jelas bocah
kekanak kanakan mengenakan tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum
di sampingnya sedang berjalan menuju ke seberang jalan tanpa tahu situasi di
sekitarnya.
Yaampun
bego, ngapain kamu disitu... bahaya!!!
Iko yang tak berpikir panjang
lagi, kemudian berlari menuju gerbang sekolah menerobos puluhan siswa yang
tengah berkerumun melihat keributan di luar. Iko menghampiri si bodoh, alvin.
“nyet, minggir.. bahaya!”. Teriak
iko sambil berlari mendekat ke arah alvin.
Terlihat dari samping, seorang
murid mengenakan baju seragam berbeda dengan seragam iko, sedang berlari
menghampiri iko sambil membawa tongkat besi di tangan kanannya.
“nyet, goblog.. minggir, nyet!”.
Teriak iko sambil menarik lengan alvin sehingga ia terjatuh di pinggir jalan.
PRAAAAANNGGGGG...
..........................................
Sebuah benda tumpul menghujam
pelipis kanan iko sesaat setelah menarik lengan sahabatnya tersebut.
BUUUGGG... BUGGG..
PRRAAAANNGGGG...
Dua kali iko merasakan ada
tendangan di perut dan pukulan besi di kepala. Iko tersungkur di jalan. Mata
iko sesekali melihat ke arah sahabat bodohnya yang tengah terdiam di pinggir
jalan, mukanya cemas sekali.. terlihat semakin bodoh hahaha..... Kemudian iko
melihat di sisi lain, dennis dan rifan menghampiri seseorang murid dari sekolah
lain yang sedari tadi menghajar iko. Sepertinya dennis dan rifan melakukan hal
yang sama, memukuli anak tersebut hingga berdarah.
“matek kon, rasakno! @@@@#@#@#@”.
Teriak dennis dan juga omongan kotor si rifan sambil memukuli anak tersebut.
...................................................
Iko merasa lemas kala itu, jemari
tangannya gemetar. Iko menyadari ada air berwarna merah menetes dari pelipis
matanya. Iko mencoba meraba kepala bagian kanannya, ada darah yang juga menetes
dari sana. Pandangan iko semakin buram.. pemandangan mengerikan tersebut seolah
menjadi pekat menghitam. Suara teriakan dennis dan rifan, serta teman teman lainnya
yang sedang melihat keributan tersebut semakin terasa pelan hingga kemudian
tidak iko dengar lagi. Hanya suara mendengung yang kini iko dengar.
Iko kembali meraba pelipis mata
kanannya.. awwww... sakit. Pusing sekali...
kemudian...
Gelap...
semakin Gelap...
Tenang.....
Hening sekali...
----------------------------------------------
Iko kecil merasakan hembusan angin
sore di sebuah tepian sungai yang memiliki gundukan tinggi sebagai pembatas,
ada rumput ilalang bergerak mengikuti arah angin melaju..
“mas, kita mau ngapain sih?”.
Tanya milo masih bingung.
“anu, ini kita mau nyoba
meluncur, kamu pegangan yang kuat yoh..”. perintah iko kecil ke adiknya sambil
bersiap mengayuh sepeda menuruni turunan tajam di tepian sungai.
Suuuuuurrrrrrrrr...... seru
sekali meluncur di turunan dam
pembatas sungai, iko kecil berteriak... begitu pula milo.. hahahaha.....
Tiba tiba...
BRUKKK!!!
“Aw, kaki milo, mas”. Kata milo
merengek..
“yaelah, ini anak.. lututku juga
sakit tau, hahaha.. nggak usah nangis yo!”. Kata iko kecil sambil tertawa ke
adiknya.
Tapi milo mungkin merasa
kesakitan, dia menangis hingga sampai rumah.
“ngapain aja kamu itu heh? Kamu
itu udah gede masih aja kekanak kanakan. Harusnya kamu itu jagain adikmu. Lihat
kalo gini, bapak yang repot”. Kata bapak dengan nada marah sambil menjewer
tangan iko kecil seolah tengah murka.
“ahhh sakit pak, sakit..
ampuuunn”. Teriak iko kecil kesakitan.
Ditengah rengekan kesakitan iko
kecil, sang bapak berkata..
“KALO SAMPAI TERJADI APA SAMA
MILO, KAMU JANGAN PERNAH TIDUR DI RUMAH LAGI!”.
Apa?
Nggak boleh tidur di rumah? Yawes, iko tidur di emperan toko. Kan ada kardus
akua hahaha..
“udah pak, sabar. Iko masih
kecil”. Kata emak.
------------------------------------------------------------------
Bau
apa ini? Bau obat? Aduh.. pengen muntah, iko nggak suka bau bau yang kayak
beginian..
“nyet! Hiks hiks.. nyet!”.
Kepala
iko berat banget deh, badan iko sakit semua.. anjirr..
“nyet, bangung nyet.. hoii!”
Buat
melek susah banget nih mata, siapa tadi yang manggil? Sialan..
.........................................................
Iko membuka mata iko pelan pelan,
terlihat samar dari pandangan iko terdapat sesosok bocah bermuka mesum dan
bermata sipit. Tapi kalo dilihat lihat mata sipitnya berwarna agak kemerahan.
Naaaaaahhh loh, si alvin hahaha..
“apa nyet? Dimana inih?”. Tanya
iko ke alvin dengan nada lirih.
“di pasar turi nyet, hiks... kita
lagi belanja ikan asin”. Jawab alvin dengan nada seperti orang menahan tangis.
“eh, iko. Udah bangun nak.
Alhamdulillah kamu udah sadar”. Kata seseorang disamping alvin, orangnya mirip
iko tapi agak tuaan. Yah,, itu bapak iko.
“ko, kamu lagi di rumah sakit
darmo inih. Tadi alvin sama mas supirnya yang bawa kamu. Trus bapakmu aku yang
jemput”. Kata denis di samping iko dengan muka sok pahlawan. Ada rifan juga yang
sedang memakan buah anggur satu persatu sambil memperhatikan iko hahaha.
“oalah.. hehehe..”. tawa iko
sedikit memaksakan, sekedar untuk memberitahukan kepada seluruh orang di
ruangan tersebut bahwa keadaan iko baik baik saja.
Iko meraba muka iko dengan tangan
kanan iko, wah.. ada perban di pelipis mata. Di kepala juga ada, perbannya
muter sampek ke belakang lagi. Waduh.. iko baru sadar kalau tadi iko terkena
pukulan seseorang dari smp sebelah setelah sebelumnya iko meraih lengan
temannya, alvin. Apa kabar tuh bocah? Hahaha...
“vin, matamu merah gitu, abis
ngiris bawang ye?”. Ejek iko sambil ketawa.
Alvin hanya tersenyum bego, ciri
khas dia dah. Sudah paten hahaha...
Iko sadar sudah sekitar 4 jam dia
berada di rumah sakit. Setelah beberapa menit ngobrol dengan bapak, dennis dan
rifan pamit untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sebentar
lagi iko juga mau diantarkan pulang oleh alvin bersama bapak. Kata bapak, biaya
rumah sakit iko sudah dibiayai oleh mamanya alvin. Beliau tadi menelfon bapak
dan mengucapkan terimakasih ke iko karena telah menyelamatkan alvin dari
keributan di sekolah.
Iko sampai sekarang belum percaya
hal ini terjadi pada diri iko. Yang jelas, iko melihat temannya, sahabat di
samping meja belajar kelasnya, si bocah chinnese bermuka mesum bisa menangis.
Hahahaha... begooo bego!
Iko pulang dulu ke rumah. Kangen
si milo sama emak. Ntar nyampe rumah, iko mau ngabarin si nenek tentang apa
yang terjadi seharian ini, tentang teman iko yang nangis padahal udah gede,
tentang apa lagi yah? Tentang gombalan maut iko, yang pasti hahaha...
(bersambung ke chapter 5).