Jumat, 06 Januari 2017

Itchy Thumb Syndrome Chapter 4



Itchy Thumb Syndrome
Chapter 4. Nyet, bangun!

Senin, 12 agustus.

Pagi yang sangat dingin di tengah kampung perkotaan. Kali ini berbeda halnya dengan yang iko dan milo lakukan sebelumnya. Milo secara ajaib bangun pagi dan mengajak kakaknya untuk berjamaah di mushola dekat rumah mereka. Tadi malam milo memang tidur lebih awal, sehingga kali ini si spesimen malas tersebut bisa bangun pagi. Milo mendapatkan sebuah hadiah dari bapaknya berupa handphone baru bermerek china. Meskipun begitu, spesifikasi handphone tersebut sangat mumpuni untuk sekedar bermain game, ataupun berselancar di dunia maya. Selamat ya milo!!

Secara teoritis, tingkat mood dalam diri seseorang yang tengah bahagia akan mempengaruhi kualitas tidur orang tersebut, hal itu terbukti nyata melihat sedari malam milo nampak pulas tertidur dengan handphone barunya di samping. Lagi lagi milo tidur di kamar iko. Heeeeeuuuhhh....

Hawa dingin di pagi buta, diiringi suara petok petok dari beberapa ayam jago milik tetangga iko. Benar benar suasana yang jarang iko temui selama ini. Setelah mandi dan berpakaian rapi, iko dan milo menyusul emak dan bapak yang lebih dulu berada di mushola. Yah,, ini sudah cukup bagi iko. Kebahagian yang iko cari, yang iko idamkan, sebenarnya sudah tertata rapi setiap hari andai saja iko bisa membuka mata dan menerima kondisi keluarga iko saat ini. Terima kasih Tuhan telah membuka mata iko kembali di hari senin ini sehingga iko bisa bersama mereka lagi....

“mas, ngadep sini lah.. guyu-o”. Pinta milo yang sedang berusaha mengajak iko ber-swafoto dengannya menggunakan hape barunya. Terlihat rona ceria adik semata wayang iko kala itu. 

“woh, aku sengaja nggak ngadep ke kamera, ndol.. namanya candid “. Jawab iko.

Sebenarnya iko sedikit malas untuk berfoto ria dengan milo. Mata iko kembali ngantuk kala itu hahahaha... efek bawaan itumah.. eh, ngabarin nenek dulu ah ikonyah! Kan keren ntar, biasanya nenek yang chat duluan, kali ini iko mau jadi yang pertama memberi salam hangat buat pagi si nenek kesayangannya, winda.

“nenek, udah bangun belom? Buruan shalat gih.. keburu terang langitnyah..”. iko cek dulu kali aja ada yang salah kata, yap, udah bener, KLIKKK.. terkirim.

Sambil nunggu winda membalas chat iko, iko menuju ke toko milik bapak yang berada tepat di samping rumah. Bapak iko dulu adalah karyawan di salah satu perusahaan pupuk di gresik. Entah karena alasan apa, yang jelas saat itu iko masih kecil, bapak mengundurkan diri dari pekerjaannya dan lambat laun mulai membuka usaha toko bahan sembako dan peralatan rumah. Iko sadar, ternyata setiap hari bapak sudah terbangun di pagi sekali lalu menyiapkan isi toko dan membuka bilah demi bilah dinding kayu penutupnya. Kemana ajaa iko selama ini, iko terlalu malas.

---------------------------------------------

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Iko dan milo sudah sarapan bersama bapak dan emak, setelah mempersiapkan kembali perlengkapan ke sekolah, iko berangkat bersama bapak dan milo, tentunya. Motor butut kesayangan bapak menerobos perkampungan di tengah kota surabaya mengantarkan kedua jagoannya menuju tempat mereka menimba ilmu. Selalu terselip wejangan wejangan motivasi dari sang bapak kepada iko dan milo agar lebih bersemangat dalam bersekolah. Sekitar 15 menit melajukan motornya, akhirnya tibalah iko di smp yang nggak begitu terkenal, smp kesayangannya. Hahaha...

“pak, iko sekolah dulu, Assalamualaikum”. Pamit iko sambil menjabat tangan bapak dan milo, tak lupa pula senyum manis mirip aliando ia berikan hahahaha... ngehe.

Iko berjalan menuju gerbang sekolah ditemani beberapa kawan iko. Ada wilda si gendut yang selalu rangking 1 dari dulu kelas 7 hingga saat ini. Ada jessica si cantik dengan gigi berbehel yang selalu menggoda iman hahaha. Di sisi jalan, iko melihat seorang bocah kekanak kanakan memakai tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum Tupperware bergambar boboiboy sedang berlari ke arah iko setelah keluar dari mobil yang mengantarnya, hahahaha... tau sendiri lah siapa, sahabat paling ngehe-nya iko, si alvin. 

“eh, anak mami rapi banget...”. kata jessica menggoda alvin yang tengah sibuk menyantap sandwichnya.

“woaaah, iyha sooayhooammng..”. jawab alvin susah payah dengan roti memenuhi mulutnya. Hahaha...

-----------------------------------------------------

Jam istirahat pertama berbunyi. 

Nggak perlu dibahas lagi suara belnya kayak apa {@#%$^%&^}. Kegiatan di kelas iko pada jam pelajaran pertama dan kedua tadi adalah ulangan dadakan bahasa indonesia. Seperti biasa bu yuli selalu memberikan surprise kepada muridnya. Bagi murid seperti iko, ulangan dadakan adalah bencana alam. Apalagi ulangan dadakan tersebut pada pelajaran bahasa indonesia. Memang kelihatannya mudah. Orang indonesia, lahir di indonesia, setiap hari menggunakan bahasa indonesia, tapi nilai bahasa indonesia iko selalu ancur. Berbeda halnya dengan teman sekelas iko seperti alvin, jessica, atau wilda. Mungkin ada kamus besar di otak mereka, hahaha...

Setelah beberapa jam mengalami panas dingin menghadapi soal ulangan, iko bergegas ke bawah pohon mahoni di depan kantin sambil menunggu bakso paling terkenal se antero sekolah iko, bakso mang jukin. Kali ini iko sendirian ke sana. Kemana alvin? Ah, nggak tau.. bodo amat dah. Tumben sekali sahabat iko tersebut tidak menemaninya di kantin. Sepi dah iko jadinya..

Jam istirahat itu iko habiskan dengan menyantap bakso di kantin sambil melanjutkan perbincangan lewat chat bersama sang nenek. 

“nek, lagi apa? Udah istirahat?”. Isi pesan iko yang dikirimnya ke winda.

“abis olahraga kek di gor sekolah.. ini lagi duduk duduk”. Jawab winda. 

Winda pernah ngomong kalo sekolahnya adalah satu satunya sekolah di jember yang memiliki GOR indoor. Wah kereen!. Pasti sekolah bagus tuh. Berbeda halnya dengan sekolah iko, untuk berolahraga, murid di sekolah iko harus berpanas panasan di lapangan multiguna di halaman sekolah. Adapun untuk olahraga senam dilakukan di aula lantai 2. Jadi, sekolah iko musti menyewa GOR DBL Arena di dekat sekolah iko apabila ingin mengadakan event perlombaan. 

Perbincangan iko dan winda di chat BBM berlangsung hingga waktu istirahat hampir usai. Meskipun banyak teman iko yang sedari tadi berdatangan ke kantin untuk beristirahat, tapi iko masih tetap berada di dunianya sendiri bersama sang nenek kesayangan.

Saat bel masuk  bersuara seperti jingle es miami berbunyi, dan iko sudah berpamitan ke winda untuk menuju kelas, iko mendapati seseorang yang tidak asing sedang duduk santai di samping ruang gudang sekolah. Alvin, sahabat iko yang sedari istirahat tadi tidak iko jumpai, ternyata sedang duduk berdua dengan jessica sambil menikmati 2 buah gelas pop ice. Woooaahh,,, ketahuan. Hahahaha... hayooo,, lagi telolet paling hahaha...

Iko mau kepoin alvin ah, jangan jangan mereka pacaran.. Selera alvin bagus juga. Kok bisa sih bocah kekanak kanakan kayak alvin pacaran sama cewek cantik seperti jessica? Ntar aku tanya-tanyain tuh monyet.

----------------------------------------------------
Jam demi jam berlalu, tak terasa seharian sudah iko menerima pelajaran di kelas. Kini saatnya waktu berkemas karena bel tanda pulang sekolah akan segera berbunyi. Iko tidak mendapati alvin sedang duduk di sampingnya. Si monyet sedang berduaan di pojok kelas. Anak polos kekanak kanakan itu hanya berbicara ala kadarnya untuk menjawab pertanyaan jessica yang duduk disampingnya. Terlihat sekali bahwa alvin masih canggung untuk duduk berdekatan dengan manusia cantik seperti jessica. Alvin hanya memainkan gantungan resleting tasnya sambil menjawab pertanyaan jessica yang dari tadi memainkan handphone baru alvin sambil tertawa. Tawa jessica tersebut mungkin karena melihat tingkah sahabat bodoh iko. Hahahaha...

“ko, jangan keluar dulu bentar lagi.. ada tawuran di depan. Kamu mau ikut nggak?”. Kata dennis yang tiba tiba muncul bersama teman gengnya, rifan.

“woh,, ngggak nggak. Aku gak minat sama yang begituan, sorry ya boy”. Jawab iko.

“yaaaahh, nggak solid. Oke deh, tetep di dalem gerbang sekolah aja, doain kita ya.. tunggu sampai aman baru dah keluar”. Kata rifan sambil mengeluarkan rantai dan gear motor dari dalam tasnya. 

Dennis dan rifan merupakan beberapa spesies murid pecinta tawuran. Mereka selalu bilang yes untuk bolos dan tawuran. Saat istirahat mereka ke warung depan sekolah, berkumpul dengan teman komplotannya untuk seekedar menikmati secangkir kopi dan rokok. Yap benar... mereka brandalnya sekolah iko.

Nampaknya isi pesan yang mereka kirimkan beberapa hari yang lalu benar benar akan terjadi sebentar lagi. Bagaimana bisa mereka yang masih berstatus sebagai pelajar, yang tugasnya menimba ilmu, malah bertindak anarkis seperti itu. Benar benar membuat malu diri mereka sendiri, sekolah, dan keluarga mereka. Akan dibawa kemana bangsa ini kalau generasi penerusnya masih berpikiran pendek seperti mereka. Iko cuman bisa berkata dalam hati iko... APA KATA DUNIAAA...

---------------------------------------------------

Siang itu, cuaca surabaya benar benar panas. Angin bertiup menerbangkan debu di lapangan basket yang kala itu terlihat memancarkan fatamorgana di permukaannya yang panas. Bel bersuara seperti jingle es miami yang suaranya njijiki telah berbunyi. Seperti himbauan beberapa teman iko, banyak murid murid menunggu di depan gerbang kala itu. Iko yang malas menonton keributan norak tersebut hanya duduk di samping salah satu kelas di sisi dalam gerbang. Mungkin saat ini dennis, rifan dan komplotannya sedang beradu jotos dengan murid smp lain sesuai dengan apa yang mereka katakan tadi hahaha. Entahlah... iko nggak mau tau, nggak mau ikut campur dengan hal tersebut. Norak!!!

Terdengar suara riuh ramai teman iko yang sedang menonton di dalam gerbang, yah... mungkin lagi dimulai tinjunya hahaha.. bodo amat!

.....................................

......................

“ko, itu alvin yah?”. Tanya ega, teman sekelas iko sambil menunjuk ke arah luar gerbang.

“hah? Mana ga?”. Jawab iko sambil mematikan mp3 di hape iko lalu melihat ke arah luar.




DHHHHUUUUAAARRRRRR.......



Si goblog ngapain jalan dengan santainya di luar gerbang? Seolah tanpa ada dosa, iko lihat dengan jelas bocah kekanak kanakan mengenakan tas bergambar mobil CARS lengkap dengan botol minum di sampingnya sedang berjalan menuju ke seberang jalan tanpa tahu situasi di sekitarnya.

Yaampun bego, ngapain kamu disitu... bahaya!!!

Iko yang tak berpikir panjang lagi, kemudian berlari menuju gerbang sekolah menerobos puluhan siswa yang tengah berkerumun melihat keributan di luar. Iko menghampiri si bodoh, alvin. 

“nyet, minggir.. bahaya!”. Teriak iko sambil berlari mendekat ke arah alvin.



Terlihat dari samping, seorang murid mengenakan baju seragam berbeda dengan seragam iko, sedang berlari menghampiri iko sambil membawa tongkat besi di tangan kanannya.

“nyet, goblog.. minggir, nyet!”. Teriak iko sambil menarik lengan alvin sehingga ia terjatuh di pinggir jalan.


PRAAAAANNGGGGG...



..........................................



Sebuah benda tumpul menghujam pelipis kanan iko sesaat setelah menarik lengan sahabatnya tersebut.

BUUUGGG... BUGGG.. PRRAAAANNGGGG... 


Dua kali iko merasakan ada tendangan di perut dan pukulan besi di kepala. Iko tersungkur di jalan. Mata iko sesekali melihat ke arah sahabat bodohnya yang tengah terdiam di pinggir jalan, mukanya cemas sekali.. terlihat semakin bodoh hahaha..... Kemudian iko melihat di sisi lain, dennis dan rifan menghampiri seseorang murid dari sekolah lain yang sedari tadi menghajar iko. Sepertinya dennis dan rifan melakukan hal yang sama, memukuli anak tersebut hingga berdarah.

“matek kon, rasakno! @@@@#@#@#@”. Teriak dennis dan juga omongan kotor si rifan sambil memukuli anak tersebut.

...................................................

Iko merasa lemas kala itu, jemari tangannya gemetar. Iko menyadari ada air berwarna merah menetes dari pelipis matanya. Iko mencoba meraba kepala bagian kanannya, ada darah yang juga menetes dari sana. Pandangan iko semakin buram.. pemandangan mengerikan tersebut seolah menjadi pekat menghitam. Suara teriakan dennis dan rifan, serta teman teman lainnya yang sedang melihat keributan tersebut semakin terasa pelan hingga kemudian tidak iko dengar lagi. Hanya suara mendengung yang kini iko dengar.

Iko kembali meraba pelipis mata kanannya.. awwww... sakit. Pusing sekali... 

kemudian...

Gelap... 

semakin Gelap...

Tenang.....

Hening sekali...

----------------------------------------------

Iko kecil merasakan hembusan angin sore di sebuah tepian sungai yang memiliki gundukan tinggi sebagai pembatas, ada rumput ilalang bergerak mengikuti arah angin melaju..

“mas, kita mau ngapain sih?”. Tanya milo masih bingung.

“anu, ini kita mau nyoba meluncur, kamu pegangan yang kuat yoh..”. perintah iko kecil ke adiknya sambil bersiap mengayuh sepeda menuruni turunan tajam di tepian sungai.

Suuuuuurrrrrrrrr...... seru sekali meluncur di turunan dam pembatas sungai, iko kecil berteriak... begitu pula milo.. hahahaha.....

Tiba tiba... 

BRUKKK!!!

“Aw, kaki milo, mas”. Kata milo merengek..

“yaelah, ini anak.. lututku juga sakit tau, hahaha.. nggak usah nangis yo!”. Kata iko kecil sambil tertawa ke adiknya.

Tapi milo mungkin merasa kesakitan, dia menangis hingga sampai rumah.

“ngapain aja kamu itu heh? Kamu itu udah gede masih aja kekanak kanakan. Harusnya kamu itu jagain adikmu. Lihat kalo gini, bapak yang repot”. Kata bapak dengan nada marah sambil menjewer tangan iko kecil seolah tengah murka.

“ahhh sakit pak, sakit.. ampuuunn”. Teriak iko kecil kesakitan.

Ditengah rengekan kesakitan iko kecil, sang bapak berkata..

“KALO SAMPAI TERJADI APA SAMA MILO, KAMU JANGAN PERNAH TIDUR DI RUMAH LAGI!”. 

Apa? Nggak boleh tidur di rumah? Yawes, iko tidur di emperan toko. Kan ada kardus akua hahaha..

“udah pak, sabar. Iko masih kecil”. Kata emak.

------------------------------------------------------------------

Bau apa ini? Bau obat? Aduh.. pengen muntah, iko nggak suka bau bau yang kayak beginian..

“nyet! Hiks hiks.. nyet!”. 

Kepala iko berat banget deh, badan iko sakit semua.. anjirr.. 

“nyet, bangung nyet.. hoii!” 

Buat melek susah banget nih mata, siapa tadi yang manggil? Sialan.. 

.........................................................

Iko membuka mata iko pelan pelan, terlihat samar dari pandangan iko terdapat sesosok bocah bermuka mesum dan bermata sipit. Tapi kalo dilihat lihat mata sipitnya berwarna agak kemerahan. Naaaaaahhh loh, si alvin hahaha..

“apa nyet? Dimana inih?”. Tanya iko ke alvin dengan nada lirih.

“di pasar turi nyet, hiks... kita lagi belanja ikan asin”. Jawab alvin dengan nada seperti orang menahan tangis.

“eh, iko. Udah bangun nak. Alhamdulillah kamu udah sadar”. Kata seseorang disamping alvin, orangnya mirip iko tapi agak tuaan. Yah,, itu bapak iko.

“ko, kamu lagi di rumah sakit darmo inih. Tadi alvin sama mas supirnya yang bawa kamu. Trus bapakmu aku yang jemput”. Kata denis di samping iko dengan muka sok pahlawan. Ada rifan juga yang sedang memakan buah anggur satu persatu sambil memperhatikan iko hahaha.

“oalah.. hehehe..”. tawa iko sedikit memaksakan, sekedar untuk memberitahukan kepada seluruh orang di ruangan tersebut bahwa keadaan iko baik baik saja.

Iko meraba muka iko dengan tangan kanan iko, wah.. ada perban di pelipis mata. Di kepala juga ada, perbannya muter sampek ke belakang lagi. Waduh.. iko baru sadar kalau tadi iko terkena pukulan seseorang dari smp sebelah setelah sebelumnya iko meraih lengan temannya, alvin. Apa kabar tuh bocah? Hahaha...

“vin, matamu merah gitu, abis ngiris bawang ye?”. Ejek iko sambil ketawa.

Alvin hanya tersenyum bego, ciri khas dia dah. Sudah paten hahaha...

Iko sadar sudah sekitar 4 jam dia berada di rumah sakit. Setelah beberapa menit ngobrol dengan bapak, dennis dan rifan pamit untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sebentar lagi iko juga mau diantarkan pulang oleh alvin bersama bapak. Kata bapak, biaya rumah sakit iko sudah dibiayai oleh mamanya alvin. Beliau tadi menelfon bapak dan mengucapkan terimakasih ke iko karena telah menyelamatkan alvin dari keributan di sekolah.

Iko sampai sekarang belum percaya hal ini terjadi pada diri iko. Yang jelas, iko melihat temannya, sahabat di samping meja belajar kelasnya, si bocah chinnese bermuka mesum bisa menangis. Hahahaha... begooo bego!

Iko pulang dulu ke rumah. Kangen si milo sama emak. Ntar nyampe rumah, iko mau ngabarin si nenek tentang apa yang terjadi seharian ini, tentang teman iko yang nangis padahal udah gede, tentang apa lagi yah? Tentang gombalan maut iko, yang pasti hahaha...

(bersambung ke chapter 5).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar